Kamis, 11 Oktober 2012

Ekonomi Umat


Kehidupan manusia tidak terlepas dari permasalahan ekonomi. Dengan ekonomi manusia bisa hidup, dengan ekonomi pula manusia bisa mati. Hal ini dikembalikan pada konteks perekonomian tersebut di masyarakat.
Perekonomian yang membuat manusia hidup yakni perekonomian yang berperan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, lain halnya dengan perekonomian yang membuat manusia mati yakni perekonomian yang memiliki peran untuk menyengsarakan masyarakat, seperti sistem perekonomian kapitalisme.
Dari sistem kapitalisme akan lahir liberalisme yakni paham kebebasan menghalalkan segala cara untuk mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya dan meskipun itu dilakukan dengan cara sikut kiri-sikut kanan. Sehingga timbul kesenjangan sosial, dan muncul sebuah istilah “Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin”. Demikian potret sekaligus dampak kapitalisme bagi masyarakat. Hanya para pemilik modal atau kekayaan yang dapat bertahan hidup.
Dengan diterapkannya kapitalisme, secara tidak langsung hukum rimba pun berlaku. Manusia berebut harta. Mereka menafikan Dzat yang telah memberikan harta yang mereka dapatkan. Mereka lengah dengan catatan indah dari Al-Quran yang berbunyi:   
Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.S. Ibrahim: 7).
            Permasalahan kapitalisme semakin lama semakin mengakar dalam jiwa-jiwa manusia, keserakahan mulai menjalar di setiap aliran darah. Ini merupakan penyakit yang harus dicari obat penyembuhnya. Oleh karena itu, diperlukan pembaruan untuk meredakan kobaran api kapitalisme dengan sistem perekonomian syari’ah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar