Selasa, 19 November 2013

Peternak Lembang Bebas Elpiji Berkat Biogas


Sumber media: Antara News

Lampu biogas untuk rumah tangga di Kampung Areng, Cibodas Lembang
ANTARA News - Selasa, 31 Januari 2012 13:02 WIB

Jakarta (ANTARA News) - Satu tabung elpiji 12 kg teronggok di sudut dapur Eti Rohaeti. "Saya biarin di situ, biar jadi kenang-kenangan zaman repot," kata Eti (32) tersenyum sambil melirik suaminya, Hendra (35).

"Zaman repot" menurut warga Kampung Areng Desa Cibodas Lembang Kabupaten Bandung itu adalah ketika setiap kali elpiji habis, mereka harus repot mencari karena tidak semua toko atau warung selalu sedia tabung elpiji.

Kadang, mereka harus ke kota kecamatan yang jaraknya sekitar 30 menit menggunakan sepeda motor."Kalau habisnya pas sore atau subuh, ya udah enggak masak dulu," kata Eti.

Repot seperti itu kini tinggal kenangan bagi suami-istri tiga anak tersebut. Mereka punya pasokan sumber energi untuk dua kompor dan lampu pijar di dapur. Yang paling menyenangkan, sumber energi itu gratis.

Hendra (namanya hanya satu kata) dan Eti sudah beberapa bulan terakhir menggunakan biogas, bahan bakar yang dihasilkan dari kotoran tiga sapi mereka.

Pasangan peternak sapi perah itu terlebih dulu membangun bak penampungan sebesar 6 meter persegi (disebut reaktor) di belakang rumah.

"Apinya sama-sama biru,  gak kerasa beda dengan elpiji," kata Eti.

Tetangga mereka sesama pemakai biogas, Pepen Supendi (34), bahkan mendapat manfaat tambahan berupa kompos hasil biogas yang disebut bio-slurry. Pepen punya enam sapi perah dan punya kebun hampir satu hektar yang ia tanami tomat dan cabai.

"Komposnya bagus, hasilnya panen nambah 40 persen," kata Pepen yang setiap 90 hari memanen 6 ton tomat.

Memasyarakatkan biogas dari kotoran sapi bukan hal sulit untuk para peternak sapi di Lembang. Pepen mengaku dia langsung tertarik dengan biogas ketika pertama kali diperkenalkan ketua kelompok peternak mereka.

"Belum pernah tuh dengar ada yang menolak pakai biogas karena takut meledak atau jijik karena dari kotoran sapi. Kan memang bukan kotoran yang masuk rumah, tapi gas," kata Pepen.

Di Lembang sudah ada 368 petani yang menggunakan biogas dan jumlahnya terus bertambah sejak program itu dimulai pada Juli 2010. Para pengguna biogas itu adalah sebagian dari anggota Koperasi Peternak Susu Bandung Utara (KPBSU) yang punya sekitar 7.000 anggota.

Koperasi tersebut mengggandeng Rabobank Foundation untuk menyalurkan kredit ringan pembangunan instalasi biogas tersebut. Harganya tergantung ukuran reaktor, tapi paling banyak dipakai adalah reaktor 6 meter persegi yang memakan biaya Rp6,6 juta.

Peternak sapi perah cukup mencicil Rp70 ribu/pekan, bisa dipotong langsung dari susu yang mereka setorkan setiap pagi dan sore. Hendra yang memiliki tiga sapi, mengirim 25 liter susu ke koperasi setiap hari dengan harga rata-rata perliter Rp3.200.

"Kalau sudah lunas, ya gas di dapur asli gratis dan untuk seterusnya," kata Hendra.

Lahan
Bahan baku untuk biogas yaitu kotoran ternak bisa dibilang berlimpah, tapi baru sedikit peternak sapi perah di Lembang yang menggunakan teknologi itu.

"Kendalanya lahan, karena peternak harus punya tempat untuk instalasi biogas itu. Sebagian hanya punya kandang saja, jadi belum bisa menggunakan biogas, padahal sudah berminat," kata Hamdan Sobahi dari KPSBU.

Lahan yang diperlukan tergantung dari besarnya reaktor. Sebagian peternak membangun tangki reaktor ukuran 6 m2. Selain itu, masih perlu sedikit ruang terbuka untuk inlet kotoran sapi, dan penampung ampas biogas.

Pembangunan reaktor biogas juga tidak bisa dilakukan sembarang orang karena mereka harus bersertifikat program Biogas Rumah (Biru) yang dikelola Institut Humanis untuk Kerjasama Pembangunan (Hivos).

Hivos, yang didukung lembaga kerjasama pembangunan Belanda, memulai program biogas di Indonesia tahun 2009 dan akan berakhir penghujung 2012. Target mereka adalah mendirikan 8.000 biogas di tujuh provinsi khususnya di wilayah-wilayah peternak sapi perah, 1.000 di antaranya di Lembang Kabupaten Bandung.

Lembaga non-profit itu memberikan subsidi rata-rata Rp2 juta untuk tiap instalasi biogas. Di Lembang, para petani yang disubsidi itu juga mendapat bantuan pinjaman bunga lunak dari Rabobank Foundation sebesar 8%/ tahun untuk membangun instalasi antara lain reaktor jenis kubah (fixed dome) cor beton yang ditanam di bawah tanah.

Menurut Hamdan, hingga kini tidak satupun peternak yang menunggak pembayaran. "Ada 25 anggota koperasi yang ingin kredit biogas tapi terpaksa ditolak karena setelah disurvei, lahan mereka tidak cukup. 20 lainnya mengundurkan diri karena khawatir sulit membayar cicilan," katanya.

Koperasi yang dikelola Hamdan kemudian mengajukan keringanan cicilan dari Rp150 ribu/bulan menjadi Rp100 ribu.

Ketika dimintai komentar, Manajer Proyek Rabobank Foundation Indonesia Bern Dwiyanto yang sedang mengunjungi KPSBU mengemukakan "pada prinsipnya kami setuju dan Februari ini mungkin sudah bisa dilaksanakan."

Pihaknya juga memberikan pembiayaan serupa untuk biogas para peternak sapi perah Pangalengan  Kabupaten Bandung, Tandangsari Sumedang, dan di Garut Selatan dengan anggaran Rp12 miliar.

Harga Rendah
Para peternak tidak punya hambatan dalam menerima teknologi biogas, terlebih lagi tersedia subsidi dan keringanan biaya.

Tantangan terberat dalam memasyarakatkan biogas secara luas adalah harga susu yang masih rendah sehingga belum banyak orang tertarik untuk menjadi peternak sapi perah.

"Harga susu memang belum menarik," kata Hamdan. Dia mengingat-ingat, dahulu satu liter susu setara dengan dua liter beras. "Sekarang, seliter susu belum tentu dapat setengah liter beras," katanya.

Dia mengaku heran karena harga daging sapi terus menerus naik sedangkan harga susu sapi susah sekali beranjak.

Hamdan juga mengemukakan jumlah anggota KPSBU tetap berkisar 7.000-an anggota. "Selalu ada anggota baru tapi ada beberapa anggota yang berhenti jadi peternak dan memilih usaha lain, mungkin ada juga yang jual sapinya lalu usaha ojek," katanya.

Dia mengemukakan, harga susu di Indonesia bahkan terendah di ASEAN. Dia mencontohkan Malaysia yang harga susunya sekitar Rp5.200/ liter.

Harga susu yang masih rendah tersebut menurut dia membuat peternak sulit mengembangkan usaha mereka.

Data Departemen Pertanian pada tahun 2011 menyebutkan bahwa tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia hanya 11,09 liter per kapita per tahun sedangkan Malaysia dan Filipina yang mencapai 22,1 liter per kapita per tahun, Thailand 33,7 liter per kapita per tahun, Vietnam 12,1 liter per kapita per tahun dan India mencapai 42, 08 liter per kapita per tahun.

Menurut data tersebut pasokan susu nasional hanya mampu mencukupi 30 persen dan sisanya impor.

Beberapa waktu lalu, Dewan Persusuan Nasional (DPN) meminta pemerintah meninjau kembali batas bawah harga susu segar di tingkat peternak karena harga di pasar internasional yang sudah lebih dari Rp 4.000/liter.

Hamdan menginginkan agar pemerintah turun tangan membantu peternak sehingga mereka bergairah dalam melanjutkan usaha.

"Coba kalau semakin banyak peternak, tentu biogas juga semakin banyak yang menggunakan, artinya makin banyak orang punya sumber energi sendiri," katanya.

Hamdan membayangkan jika harga susu di peternak menggairahkan usaha, dia optimistis, seluruh anggota koperasinya yang berjumlah 7.000-an orang masing-masing punya unit biogas di rumahnya.
(A038)

Editor: Aditia Maruli
Sumber: www.antaranews.com

Rabu, 23 Oktober 2013

Mutiara Sastra "Bunga Kering Perpisahan"

Bunga Kering Perpisahan
Created by: Denny ZA

Bagian 1

Di nisan suaminya
Ia taburkan melati dan kenanga
Sambil melafalkan doa
Perempuan itu Dewi namanya.

Terbius rasa pedih
Ia mohon ampun dengan suara lirih
Segala yang di dadanya terasa berat,
Segala yang di sekitarnya semakin pekat.

Sepuluh tahun sudah ia hidup
Bersama Joko, suami pilihan Ayah
Perkawinannya selalu redup
Karena Albert pilihan hatinya.

Maafkan aku, suamiku, tangis Dewi.
Sepuluh tahun lamanya sudah

Kita menikah –

Tapi tak mampu jua aku mencintaimu.

Sudah kuberikan segalanya padamu

Tapi rupanya bukan engkau milik hatiku.
Bukan engkau inti angan-anganku.

Joko, apa dayaku?

Ditaburkannya bunga sekali lagi
Sambil menelusuri isi hati,
Izinkan kuserahkan sisa hidup ini

Kepada lelaki yang kucintai.

Kini kau di alam baka –
Setelah sepuluh tahun yang tanpa warna,

Baru sepenuhnya mataku terbuka:

Cinta memang tidak bisa dipaksa.




Bagian 2

Di kamarnya yang sunyi
Dewi membuka almari;
Diambilnya sebuah kotak kecil berwarna nila
Yang sejak menikah tak pernah disentuhnya.

Dengan gemetar kotak dibukanya:
Mawar kering itu masih di sana;
Terbayang olehnya Albert, kekasih hatinya,
Dan tersengat jiwanya oleh kisah lama.

Seolah didengarnya kata pemuda itu
Di saat perpisahan sepuluh tahun lalu,
Simpan bunga kering ini, Dewiku,

Sampai kau terbebas dari belenggu.

Kalau sampai waktunya nanti,
Kalau kita memang jodoh sejati,

Kirimlah bunga ini padaku kembali

Dan aku akan datang padamu. Aku janji!


Bagian 3

Tahun delapan puluhan –
Mereka kuliah, satu angkatan;
Bersahabat? Tak usah ditanya.
Cinta? Nanti dulu, agama berbeda.

Dewi sejak awal merasa
Albert lelaki istimewa,
Tapi Dewi seorang Muslimah
Sedangkan Albert anak pendeta.

Pemuda itu selalu berkata,
Aku suka ke gereja, tapi tak pasrah buta

Pada satu agama;

Aku hanya ingin menyadap intinya.

Sering disampaikannya kepada gadis itu
Segala yang dengan baik dikuasainya
Dari pengalaman, dari buku –
Dan Dewi tak pernah bosan mendengarnya.

Umat manusia, ujar Albert,
Sudah lebih dari 150 ribu tahun umurnya;

Berturut-turut agama pun diturunkan,

Diwartakan, dipertengkarkan.

Manusia lebih tua dari agama
Sudah ada cinta sejak manusia diciptakan-Nya,

Cinta lebih tua dari agama,

Janganlah agama mengalahkan cinta.

Begitulah Albert, itulah logikanya.
Namun, di balik pikirannya yang liar kedengarannya
Albert adalah pemuda yang suka menolong sesama
Lembut hatinya.


Bagian 4

Ia kenal pemuda itu sejak kecil
Dari desa terpencil
Sama-sama hijrah ke Jakarta
Untuk merebut cita-citanya.

Dulu, semasa bocah
Pernah mereka menyeberang sungai ke sawah
Melewati jembatan bambu – tiba-tiba patah!
Dewi tercebur, ya Allah!

Sigap Albert melompat menolongnya
Sementara kawan-kawan lain bengong, diam saja;
Ditariknya Dewi, diseretnya melawan arus deras
Diangkatnya ke tepi sungai – dibimbingnya rebah di teras.

Suatu malam Dewi bermimpi:
Ia dibonceng Albert bersepeda
Lepas gembira melewati sawah dan bukit –
Inikah pertanda mulai bersemi cintanya
?
Semakin lama semakin deras perasaan sayangnya,
Tapi sejak mula disadarinya juga:
Mereka berlainan agama.
Siapa gerangan yang akan mensahkan cinta remaja?1

Terbayang olehnya
Pagar pembatas itu: memanjang di selatan
Menghalang di utara,
Di barat, di timur, di kiri dan kanan.

Semakin lama semakin dalam Dewi rebah
Dalam pelukan Albert yang gagah
Tapi ia tahu pasti
Perpisahan tak akan bisa dihindari.




Bagian 5

Waktu yang diduga datang jua!
Dewi duduk di hadapan ayahnya
Yang dengan lugas dan tegas bicara
Tentang hakikat cinta dan agama:

Aku sangat malu
Dan aku tak akan pernah mau

Menjadi orang tua

Yang kena murka Allah.

Aku tak akan tahan

Menjadi insan dilaknat

Hanya lantaran membiarkan

Anaknya menempuh Jalan Sesat!

Dan ujung-ujungnya
Sampai juga pesan utama:
Joko pemuda santri ia perkenalkan
Sangat cocok menjadi suami Dewi.

Tekad Ayah bulat
Niatnya pekat
Albert harus dilupakan
Karena Joko suami Dewi di masa depan.

Tak sepatah kata terucap dari Dewi,
Bibirnya terkunci.
Gadis itu tertunduk, jiwanya berontak.
Tapi pesan ayahnya? Tak bisa ditolak!

Teringat ia akan masa kanak.
Tinggal di sebuah rumah sederhana;

Ayah kadang pulang larut.
Waktu itulah ibunya suka bertitah,
Lihatlah baik-baik, Nak,

Kita bisa menikmati sore dan malam

Tapi ayahmu masih mencari nafkah — berjibaku

Kita ini bagaikan benalu!

Jangan sekali-kali kaudurhakai

Pohon perkasa, sandaran hidup kita,

Jangan pernah kauganggu nurani ayahmu.

Hidup Ayah lurus rus rus rus,
Prinsip agamanya kuat wat wat wat –
Kaku?

Beku?

Katanya pada suatu hari,
Manusia diciptakan berpasangan;

Walau pemuda itu baik padamu

Tetapi ia lain agama.

Itu artinya
Ia bukan jodoh

Yang dikirim Allah

Untukmu!

Sejak kecil ia tak boleh membantah Ayah
Hidupnya selalu siap diperintah
Walau kali ini permintaan Ayah berat
Ia harus patuh bulat.

Aku akan menikah dengan Joko
Aku harus melupakan Albert

Bisa ataupun tidak

Aku harus bisa, gumam Dewi.


Bagian 6

Dan Albert? Ia berbeda;
Rumahnya di atas angin
Baginya agama sama saja,
Tetapi menghadapi Dewi harus panjang nalarnya.

Benar, katanya kepada dirinya sendiri,
Banyak orang tidak peduli
Dan mereka ikuti saja kata hati,2
Tapi Dewi bukan selebriti!

Ia temui para ahli Kitab
Dan diketahuinya, masing-masing punya sikap.
Itu haram mutlak! kata salah seorang
Sambil menunjukkan hukum yang jelas dan tegas.3

Yang lain bersikap sebaliknya
Berdasarkan alasan yang juga mengena.4
Pemuda itu terbuka mata
Tak ada keseragaman ternyata.

Ada pandangan yang menutup pintu kawin beda agama,5
Tapi ada juga pandangan lain yang menerima.6
Wahai, apa makna semua?

Apa peduliku?

Mengapa aku harus tunduk pada aturan itu?

Bukankah cinta lebih tua dari agama dan negara?




Bagian 7

Namun Dewi tetaplah seorang santri
Patuh pada orang tua adalah tradisi
Cintanya pada Albert yang mendalam
Sekuat tenaga ia benam.

Joko itu ternyata cerdas dan santun,
Siapa tahu hidup kami nanti bisa rukun.

Pikirannya menerima lelaki itu
Ingin dicobanya hidup baru.

Tapi terhadap Joko mengapa hatinya seperti batu?
Dewi diam terpaku.
Mengapa pikiran dan hatinya tidak bersatu?
Dewi mulai ragu.

Albert selalu bergelora
Mampu menggetarkannya sampai ke surga,
Tapi Joko alim dan dingin
Hatinya beku seperti patung lilin.

Pernikahan pun berlangsung meriah
Demi Ibu dan Ayah, aku pasrah,

Akan kulupakan Albert, dan setia kepada suami,

Demikian janji Dewi kepada dirinya sendiri.


Bagian 8

Hari silih berganti, tahun datang beruntun,
Keduanya menjalani hidup yang tertuntun,
Joko pegawai negeri biasa
Dewi karyawan perusahaan swasta;

Hampir tak pernah mereka bertengkar,
Kata orang keluarga Dewi tenang.
Tapi kenapa hidupku ini hambar?

Kenapa Eros cinta pada Joko tidak juga bertandang?

Di benak Dewi bayangan Albert kerap melintas
Dan rindunya memanas:
Terbayang olehnya boncengan sepeda di pematang sawah,
Terbayang sore yang lepas dan bunga merekah.

Kepada malam yang sepi ia bertanya,
Apakah gejolak cinta hanya datang satu kali saja

Dan itu hanya untuk cinta remaja?

Mengapa setelah menua

Getaran cinta tak lagi ada?

Mengapa rasa itu hanya mekar kepada Albert, pacar masa remaja?

Mengapa tidak kepada Joko, suaminya?

Malam yang sepi tak pernah menjawab pertanyaannya.

Tapi Aku harus jadi Muslimah teladan
Patuh pada suami,
Taat pada orang tua,
Dan bakti kepada agama.
Itu harga mati,
tandasnya.

Bagian 9

Bertahun-tahun sudah mereka berkeluarga
Tak juga lahir ada anak mereka;
Wahai, Joko ternyata memiliki kelainan
Ia tak bisa berketurunan.

Beberapa kali ia jatuh sakit.
Awalnya dianggap biasa saja
Semua manusia lain mengalaminya:
Sakit dan sehat seperti musim, datang dan pergi.

Namun, di tahun kesembilan pernikahan
Sakit Joko semakin berkepanjangan,
Semakin parah –
Tubuhnya tampak bertambah lemah.

Sebagai istri yang berbakti
Dewi memutuskan berhenti bekerja
Agar bisa merawat suami
Dan tinggal di rumah saja.

Tak putus-putus juga Dewi berdoa
Agar Joko kembali seperti sedia kala;
Meski ia sadar sepenuhnya
Bahwa itu bakti semata, bukan rasa cinta.

Dan hari itu pun tiba juga akhirnya!
Vonis dokter: Joko tak bisa bertahan lebih lama.
Dewi pun mendadak merasa bersalah
Mengapa di lubuk hatinya tetap ada masalah.

Dan ketika suaminya harus pergi
Untuk menjumpai Khalik,
Suatu malam Dewi bertahajud.
Jiwanya menangis, pikirannya ngelangut.

Ya Allah, ampunilah aku.
Segala cara telah kutempuh

Segala tenaga telah tercurah

Agar bisa menjadi

Istri yang baik, istri yang setia,

Tetapi mengapa tak kunjung terbit

Nafsu cintaku kepadanya?

Mengapa justru Albert yang selalu ada

Di pelupuk mata?

Ya Allah, aku telah gagal jatuh cinta

Kepada suamiku sendiri!


Bagian 10

Setahun sudah Dewi menjanda,
Ia mulai banyak membaca.
Hidup sebatang kara memaksanya menjadi baja
Ia sudah kembali bekerja.

Ia mulai lepas dari tradisi
Dihayatinya hidup yang mandiri
Filsafat dan sastra membentuk dirinya,
Ia bukan Dewi yang dulu lagi.

Suatu ketika
Ia punya niat ke kampus
Untuk melepas rindu
Masa-masa mahasiswinya dulu.

Ia duduk di taman yang dulu juga.
Suasana sudah berubah
Tetapi ada yang masih tinggal –
Masih bisa dihirupnya.

Bangku yang itu juga
Sudah berubah warna.
Di situ ia dulu masih sempat ketemu Albert
Sebelum hari pernikahan, sepuluh tahun lalu.

Saat itu senja mulai gelap
Mereka sadar segera harus berpisah;
Di pojok taman itu
Sambil berjalan Albert berkata,
Jika kautinggalkan aku

Karena tak lagi mencintaiku,

Aku pasrah.

Jika kau menikah dengan lelaki lain

Karena kamu mencintainya,

Aku terima.

Tapi aku tahu, Dewi,

Bukan itu alasanmu meninggalkanku.

Kauhancurkan cinta kita

Demi baktimu kepada ayahmu.

Demi baktimu pada tafsir agama!

Ia ingat magrib di taman itu.
Ia menangis tanpa suara.
Tak ada lagi yang bisa diusahakan:
Albert harus merelakan perpisahan.

Sebelum berpisah Albert menyerahkan
Sekuntum mawar.
Di pikirannya kata-kata itu masih melekat
Yang kadang bisa membuat hari-harinya pekat.

Dewi, simpanlah mawar segar ini.
Pada waktunya nanti

Ia akan kering dan layu;

Apa yang akan terjadi

Tak akan bisa diduga

Kecuali nasib bunga ini.

Kita tak tahu masa depan.

Jika ternyata kau memang jodohku

Dan kelak telah siap untuk bersatu denganku,

Kirimlah bunga ini sebagai isyarat;

Aku akan segera menghampirimu –

Ini janjiku.

Aku percaya dalam hidup

manusia jatuh cinta hanya sekali saja

Cintaku sudah tunai untukmu.

Dewi tidak bisa lain
Kecuali diam saja,
Dan sambil menundukkan kepala
Ia bertanya apakah Albert akan menikah juga.

Aku akan menikah dengan petualanganku –
Gunung-gunung tinggi akan kutaklukkan

Akan kujelajahi bumi yang diciptakan-Nya

Dan akan kusampaikan pertanyaanku

Di puncak setiap gunung yang kudaki,

Tuhan, mengapa tak Kau-restui cintaku

Kepada sesama ciptaan-Mu

Hanya karena, ya Allah,

Hanya karena agama kami beda?

Padahal Kau jugalah yang menurunkannya.

Tersekat tangis Dewi, dibawanya mawar itu,
Disimpannya dalam sebuah kotak
Yang akan menjaga rahasia abadi
Cintanya kepada seorang laki-laki.
Cinta sejatinya.
Cinta hatinya.

Ya, Tuhan, perkenankan aku menikah;
Bimbinglah aku agar setia pada suami

Dan jangan biarkan aku

Membuka kotak ini lagi.





Bagian 11

Namun, apa yang tak berubah
Di bawah langit?
Pada suatu hari dibukanya juga
Kotak itu: benar, mawar itu kering dan layu.

Tapi masih diciumnya wangi baunya.
Seperti gemetar mawar layu itu di tangannya,
Ke mana gerangan hidup ini mengarah?

Muncul kembali bayangan yang sudah jadi arwah.

Di seberang jendela: langit tak ada batasnya
Awan masih tetap berkelana.
Kali ini biar kuturuti saja suara hati

Tiba sudah saatnya, berbakti kepada diri sendiri
.
Ya, Allah, telah kuikuti lurus ajaran-Mu
Seturut tafsir orang tuaku;

Ayah dan Ibu, telah kuikuti pula keinginanmu

Menikah dengan lelaki yang bukan pilihanku;

Suamiku, telah kucoba melayanimu

Setia padamu sampai akhir hayatmu.

Kini tiba giliranku

Menjadi tuan bagi diri sendiri –

Izinkan aku mengikuti suara jiwaku,

Hanya tunduk pada titah batinku.

Dipandangnya lagi mawar kering itu.
Sudah tetap niatnya:
Akan disampaikannya kembali ke pemiliknya
Secepatnya. Ia pasti masih menunggu, pikirnya.

Langit tetap yang itu juga
Yang dulu mendengar janji kekasihnya:
Kapan pun bunga itu dikirim kembali
Lelaki itu akan siap menerimanya lagi.

Menakjubkan: cinta ternyata terus bertahan
Melampaui masa dan berbagai perbedaan;
Pernikahan boleh dibatalkan
Tetapi meski di dalam sekam, cinta tak padam.

Kepada Ayah dan Ibu Dewi sampaikan niatnya
Untuk kembali ke cinta lamanya.
Tapi apa kata mereka berdua?
Lebih baik menjanda daripada kawin beda agama!


Bagian 12

Namun, sekarang ini Dewi berbeda,
Ia tetap sayang orang tua
Ia tetap saleh soal agama.
Tapi sikap hidup? Kini ia tegak pada pendiriannya.

Ayah menghalanginya sekuat tenaga,
Menikah beda agama hanya mengirimmu ke neraka!

Jawab Dewi, Ayah ini zaman Facebook dan Twitter
Bukan era Siti Nurbaya!

Dunia sudah berubah

Bukan manusia untuk agama

Tapi agama untuk manusia

Bagi Ayah, beda agama itu masalah.

Bagiku tidak!

Ayah memang merawat fisikku sejak kecil.

Tapi jalan hidupku bukan punya Ayah!

Ayah terkaget alang-kepalang.
Dewi yang patuh sudah tiada,
Di hadapannya berdiri Dewi yang berbeda
Betapa dunia memang sudah berubah.

Hati Dewi sudah bulat
Cintanya pada Albert memanggilnya kembali;
Terbayang era bocah
Ia menemani Albert bermain layang layang di sawah.

Maka diposkannya bunga itu ke alamat kekasihnya.
Hari berganti hari, pekan berganti pekan,
Dewi tertegun: mengapa tak kunjung ada jawaban?
Ya, ya, apakah janji sudah dilupakan?

Tibalah juga sore tak terduga itu:
Seorang ibu tua mengetuk pintu,
Dan ketika dibuka,
Astaga! Ibunya Albert rupanya.

Dipeluknya Dewi, disampaikannya berita itu.
Sejak kamu menikah,

Albert tak betah lagi di rumah.

Didakinya gunung demi gunung

Entah di negeri mana –

Seperti ada yang ingin dicarinya

Seperti ada yang ingin diprotesnya.

Dan setahun lalu aku mendapat berita

Albert, anakku laki-laki itu

Tak akan pulang kembali –
Ia meninggal di sebuah gunung

Dan dimakamkan di sana.

Suara perempuan tua itu terbata-bata
Tapi kuasa menahan air matanya.
Dan Dewi? Ia menjerit sekuat-kuatnya
Sambil memeluk ibu tua itu.

Ada pesannya, sambung ibu Albert,
Sebelum pendakiannya yang terakhir

Albert menitip surat

Yang hanya boleh disampaikan

Kalau kuntum mawar sudah kaukirimkan
.
Tak sabar dengan tangan gemetar
Dibukanya surat itu,
Masih dikenalinya tulisan tangan Albert –
Tetap seperti dulu.

Dewi, tulis Albert,
Mungkin sudah kaukirim kembali

Bunga kering itu sekarang.

Tapi yang akan kauterima

Hanya surat ini.

Aku tak berniat mengingkari janji!

Aku sekarang mungkin di alam lain

Dan janjiku tetap seperti dulu:

Cintaku hanya untukmu

Yang tak sampai hanya karena kita beda agama.

Dipeluknya surat itu
Diciumnya hingga basah oleh air mata
Hatinya menjerit
Melolong sampai jauh, jauh sekali…
***


Catatan:
  1. Pandangan ini didasarkan pada ayat-ayat al-Quran: “Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman.” (Al-Baqarah: 221). Dan ayat: “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka, maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir, mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” (Al-Mumtahanah: 10)
  2. Banyak pasangan selebriti yang menikah secara beda agama seperti Katon Bagaskara dan Ira Wibowo, Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen, Jamal Mirdad dan Lydia Kandau, Yuni Shara dan Henri Siahaan (sudah bercerai), Glenn Fredly dan Dewi Sandra (sudah bercerai), Dedi Kobusher dan Kalina, Frans dan Amara, Sony Lauwany dan Cornelia Aghata.
  3. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No. 05/Kep/Munas II/MUI/1980 tanggal 1 Juni 1980 menetapkan bahwa perkawinan wanita muslimah dengan laki-laki non-muslim adalah haram hukumnya.
  4. Ada keterangan bahwa Nabi Muhammad pernah menikah dengan Maria Qibtiyah, seorang perempuan beragama Kristen Koptik Mesir dan Sophia yang beragama Yahudi. Para sahabat seperti Usman bin Affan menikah dengan Nailah binti Quraqashah al-Kalbiyah yang Nasrani, Thalhah bin Ubaidillah menikah dengan perempuan Yahudi di Damaskus, Huzaifah menikah dengan perempuan Yahudi di Madian. Para sahabat lain, seperti Ibn Abbas, Jabir, Ka’ab bin Malik, dan Al-Mughirah bin Syu’bah juga menikah dengan perempuan-perempuan ahli kitab. Keterangan ini disampaikan oleh Prof. Musdah Mulia, Prof. Kautsar Azhari Noer, dan Prof. Zainun Kamal dalam Klub Kajian Agama (KKA) ke-200, yang digelar Yayasan Paramadina pada 17 Oktober 2003, lihat laporannya “Tafsir Baru atas Nikah Beda Agama” dalam http://icrp-online.org/082008/post-17.html.
  5. Hukum pernikahan di Indonesia diatur dalam UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UUP). Dalam Pasal 2 ayat 1 UUP dinyatakan: “(1). Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.” Untuk melindungi hak dan kewajiban suami-istri, perkawinan harus dicatat oleh lembaga yang berwenang. Ketentuan mengenai pencatatan perkawinan diatur dengan Peraturan Pemerintah (PP) No 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UUP No 1 Tahun 1974. Dalam Pasal 2 PP No. 9/1975 disebutkan, apabila perkawinan dilakukan oleh orang Islam maka pencatatan dilakukan oleh pegawai pencatat dari Kantor Urusan Agama (KUA). Sedangkan bagi mereka yang melangsungkan perkawinan menurut agama dan kepercayaannya di luar Islam, maka pencatatan dilakukan pada Kantor Catatan Sipil (KCS).
  6. Pernikahan artis Katon Bagaskara (Kristen) dan Ira Wibowo (Muslim) dianggap sah secara hukum positif. Dan bisa memperoleh surat keterangan dari Kantor Catatan Sipil. Pasangan selebriti lainnya Ari Sihasale (Katolik) dan Nia Zulkarnaen (Islam) menikah di Perth, Australia. Pernikahan mereka disahkan oleh petugas Department of Birth, Date and Marriage Perth, setara dengan Kantor Catatan Sipil di Indonesia. Ketika mereka melaporkan perkawinannya ke Kantor Catatan Sipil di Indonesia ternyata perkawinan mereka juga dianggap sah. Petugas di KCS mengatakan bahwa apa yang dilakukan Ari dan Nia tidak melanggar undang-undang, dan telah diatur dalam Pasal 56 Ayat (1) UU Perkawinan: “Perkawinan yang dilangsungkan di luar Indonesia antara 2 orang WNI atau seorang WNI dengan WNA adalah sah bilamana dilakukan menurut hukum yang berlaku di negara di mana perkawinan itu dilangsungkan dan bagi WNI tidak melanggar ketentuan UU ini”. Lihat, “Nia-Ale Menikah di Kebun Bunga Nan Indah”, http://nostalgia.tabloidnova.com/
    articles.asp?id=2446.


Sumber: http://puisi-esai.com/2012/03/26/bunga-kering-perpisahan/

Senin, 03 Juni 2013

Mengemis Bukan Tradisi Islam
Oleh: M. Rusydi

Saudara-saudara kaum muslimin, jamaah jum’ah yang berbahagia!
Sudah sering kita melihat antrian peminta-minta baik yang datang kerumah-rumah, di tengah jalan ataupun yang sudah punya jadwal mingguan tersendiri yaitu pada hari jum’ah, tatkala para jamaah bubar dan selesai melaksanakan shalat jum’ah mereka berbondong-bondong mencegat setiap orang untuk dimintai sedekah dan anehnya hal ini bukan suatu yang tabu lagi bagi kalangan ummat Islam, Mungkin karena selalu mendapat santunan yang sudah dapat menutupi sebagian kebutuhan hidup mereka ditambah mudahnya pekerjaan ini didapatkan sehingga profesi sebagai pengemis ini pun menjamur dimana-mana bahkan menjadi sumber mata pencaharian hidup.
Yang sering menimbulkan salah faham adalah adanya ungkapan: “Jangan memberi sedekah kepada peminta-minta!”, kenapa kita dilarang memberikan sedekah kepada mereka?, padahal agama selalu menganjurkan untuk selalu memberi sedekah, bahkan Allah telah menggambarkan betapa besarnya pahala bagi orang yang suka bersedekah. Sebagaimana firmanNya yang berbunyi.
Artinya: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui”. (Al-Baqarah: 261)
Islam mencela pengangguran dan peminta-minta
Agama Islam yang bersifat universal tidak saja berbicara masalah ritual dan spiritual tapi juga menyoroti segala permasalahan sosial yang selalu dihadapi ummat manusia. Salah satunya adalah masalah pengangguran dan peminta-minta yang sangat dicela oleh Islam, sebab hal ini merugikan masyarakat.
Pertama, pengangguran dan peminta-minta menyebabkan tenaga manusia bersifat konsumtif, tidak produktif akibatnya mereka menjadi beban masyarakat.
Kedua, pengangguran dan peminta-minta adalah sumber kemiskinan, sedangkan kemiskinan merupakan bumi yang subur bagi tumbuh dan berjangkitnya berbagai macam kejahatan.
Karena itulah Islam sangat menentang pengangguran dan mencela orang-orang yang tidak mau bekerja padahal sebenarnya mereka mampu bekerja.
Memberantas kemiskinan
Islam yang datang sebagai pembebas bagi seluruh ummat manusia selalu menganjurkan bagi setiap pengikutnya untuk memberikan sedekah, bahkan sedekah dengan predikat zakatpun sudah menjadi kewajiban. Dan Islam sendiri mempunyai tujuan tertentu dalam bidang harta dintaranya adalah memberantas kemiskinan secara bertahap, melarang hidup dalam kehinaan serta mendistribusikan keadilan secara merata.
Bukan Tradisi Islam
Islam mengajarkan kita untuk selalu bersedekah dan memberikan pertolongan kepada orang yang memerlukan tetapi Islam tidak mengajarkan pengikutnya menjadi peminta-minta atau pengemis, bahkan Rasulullah sendiri pernah menjelaskan bahwa orang yang membawa tambang pergi kegunung mencari kayu lalu dijual untuk makan dan bersedekah lebih baik dari pada meminta-minta kepada orang, sebagaimana sabdanya yang berbunyi:
Artinya: “Demi jiwaku yang berada di tanganNya sungguh seseorang yang mengambil tali di antara kalian kemudian dia gunakan untuk mengangkat kayu di atas punggungnya lebih baik baginya daripada ia mendatangi orang kemudian ia meminta-minta kepadanya yang terkadang ia diberi dan terkadang ia tidak diberi olehnya”. (HR. Al-Bukhari)
Dan beliau juga memberikan uswah kepada kita agar jangan meminta pertolongan selama kita masih mampu untuk mengerjakannya.
Bukan berarti kita ingin menghindari kewajiban kita sebagai muslim dan sebagai makhluk sosial, yang walau bagaimanapun diantara mereka yang meminta-minta tersebut memang pantas mendapatkan sedekah, tetapi kita hanya berhati-hati agar jangan sampai terjerumus dan terjebak pada orang-orang yang hanya menggunakan pekerjaan mengemis sebagai topeng dan menampak luaskan kemiskinan dan terlebih lagi yang kita takutkan adanya anggapan bahwa Islam adalah agama bagi orang miskin dan terbelakang.
Oleh karenanya hendaklah para da’i atau pendakwah Islam tidak hanya membatasi dakwahnya dalam masalah ritual dan spiritual belaka, karena Islam tidak hanya terbatas pada hubungan vertikal antara Tuhan dan manusia tapi Islam juga mengajarkan hubungan horisontal yaitu hubungan antara manusia, sehingga jika sistem keseimbangan yang diajarkan ini benar-benar diterapkan akan dapat menciptakan masyarakat yang baik atau baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur.
Kesimpulan
Dari keterangan-keterangan ini jelaslah saudara-saudara!, bahwa Islam sangat mencela orang yang tak mau berusaha dan hanya bisa meminta-minta, apalagi dengan berdalih bahwa pekerjaan mengemis kepengemisan dan kemiskinan itu sudah ditakdirkan Allah Subhannahu wa Ta'ala . Padahal Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam pernah bersabda:
Artinya: “Sekiranya kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, tentu Allah memberi rizki kepadamu, seperti halnya Allah memberikan rizki kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar, tetapi pulang dalam keadaan kenyang”. (HR. , Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah shahih dan Al-Hakim dari Umat)
Kemudian bagi orang-orang kaya jangan hanya bisa menumpuk harta dan berfoya-foya tanpa peduli bahwa di dalam harta mereka terdapat hak peminta-minta dan orang yang hidup di dalam kekurangan, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh surah Adz-Dzariyat ayat 19 yang berbunyi:
Artinya: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang-orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”. (Adz-Dzariyat: 19).
Bahkan kalau kita telaah kembali beberapa ayat Al-Qur’an yang turun di Mekkah sangat mengecam arogansi orang-orang kaya Mekkah yang tidak perduli terhadap fakir, miskin, dan anak-anak yatim. Allah menegaskan dalam firmanNya:
Artinya: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?. Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin”. (Al-Ma’un: 1-3).

Dalam ayat di atas sangat jelas bahwa orang yang mendustakan agama / hari Qiamat disejajarkan dengan orang yang mencampakkan anak yatim dan tidak menganjurkan orang lain untuk menyantuni fakir miskin. Betapa hinanya derajat orang yang seperti ini dan tak ada tempat yang lebih layak baginya selain kawah api Neraka yang membara.

Senin, 31 Desember 2012

Jangan Remehkan Manfaat Jengkol dan Pete

Jengkol - Pete

Jengkol dan pete, inilah dua buah yang dianggap seperti pasangan sejoli karena baunya yang sama-sama menyengat dan sering dihindari orang. Banyak yang menganggap bahwa kedua jenis buah itu tidak layak dikonsumsi atau mungkin malu untuk mengkonsumsinya meski suka. Baunya memang jadi masalah utama bagi penikmatnya. Karena itulah kedua buah ini sering digolongkan sebagai makanan kelas rendah; selain karena murah, tak banyak kalangan orang berada yang mau memakannya. Tapi tahukah anda bahwa jengkol dan pete memiliki berbagai manfaat yang sangat penting untuk tubuh kita? Berikut ini adalah faktanya.
Pertama adalah jengkol. Jengkol sendiri terdiri dari berbagai vitamin, asam jengkolat, mineral, dan serat yang tinggi. Jengkol memiliki khasiat diuretic yang dapat membantu melancarkan pembuangan urine, dan hal ini sangat menguntungkan bagi penderita penyakit jantung koroner.  Seratnya dapat melancarkan buang air besar, dan secara tidak langsung dapat membantu melangsingkan perut yang buncit akibat sulit BAB. Karena itu juga jengkol digunakan sebagai bahan cuci perut yang ampuh selain apel.
Manfaat lainnya adalah mencegah penyakit diabetes/kencing manis dikarenakan kandungan asam dan mineralnya. Namun asam jengkolat yang terdapat di jengkol berupa kristal dan tidak mudah larut oleh air. Karena itu saran dalam mengkonsumsi jengkol adalah jangan berlebihan, karena ginjal bisa jadi tidak dapat menyaring asam tersebut dalam jumlah yang kelewat banyak hingga akhirnya mengalami sulit berhenti buang air kecil atau sering disebut anyang-anyangan.
Sedangkan pete/petai, memiliki manfaat yang lebih banyak lagi dibandingkan jengkol. Dan menurut saya bau pete lebih menyengat jika dibandingkan saudaranya; jengkol. Yah, mungkin ini bayaran dari banyaknya untung yang didapat jika memakan pete—yaitu baunya juga lebih menyiksa. Pete mengandung 3 macam gula alami yaitu sukrosa, fruktosa, dan glukosa dan dikombinasikan dengan serat tinggi.
Kandungan gula ini membuat pete jadi banyak diambil manfaatnya sebagai penambah tenaga. Tak heran jika banyak atlit yang menkonsumsi pete untuk menjaga tubuh mereka agar tetap fit. Penelitian juga menyebutkan bahwa dengan menkonsumsi 2 porsi pete per hari dapat menambah suplai tenaga hingga 90 menit.
Kandungan tryptophan dan vitamin B6 di dalam pete juga bisa membantu emosi seseorang untuk menjadi lebih tenang dan bisa mengurangi tingkat depresi. Bagi para penderita tekanan darah tinggi, buah ini juga termasuk makanan yang aman dikonsumsi. Ini karena banyaknya kalium yang terkandung di pete tetapi rendah garam. Begitu tingginya kandungan kalium di pete hingga membuat FDA Amerika member ijin kepada perkebunan pete untuk melakukan klaim resmi terhadap kemampuan pete dalam menekan resiko darah tinggi dan stroke.
Kaliumnya yang tinggi juga dapat meningkatkan konsentrasi otak dan secara tidak langsung membantu menumbuhkan kecerdasan anak di usia pertumbuhan. Pete juga bisa membantu orang yang ingin berhenti dari kecanduan rokok. Kandungan vitamin B6, B12, magnesium dan kaliumnya dapat menekan kebutuhan nikotin dan membuat orang tersebut justru merasa tak perlu lagi dengan nikotin. Olesan buah pete pada kulit juga bisa menghindari Anda dari gigitan nyamuk. Jadi tidak perlu membuang uang beberapa ratus perak untuk lotion nyamuk, karena olesan pete pun tak kalah ampuh dan lebih alami. Tapi sayangnya cara ini akan sedikit mengganggu karena dijamin kulit Anda jadi bau pete juga. Hm, yang satu ini kurang efisien, ya.
Selain manfaat-manfaat tersebut, masih banyak lagi segudang manfaat pete yang membuat buah ini menjadi perhatian ahli medis. Antara lain mencegah kegemukan, mengobati anemia, mengobati sembelit, memulihkan seseorang dari mabuk, menyembuhkan luka lambung, mengatur suhu tubuh, bahkan untuk menghaluskan kulit juga—dan pete jadi banyak diekspor ke negara-negara China, Jepang, Korea sebagai bahan kosmetik.
Tidak hanya di Asia, jengkol dan petai sudah mendunia dan penyebarannya benar-benar dirasa bermanfaat bagi orang-orang. Jika disini kita seringkali malu kalau ketahuan makan jengkol dan pete, di luar negeri orang-orang justru mencarinya dan tak keberatan untuk menjadikannya sebagai cemilan harian mereka. Meskipun baunya tak sedap, tapi demi manfaatnya yang begitu besar menjadikan kedua buah ini pantas dinomorsatukan. Asal tidak ada orang lain yang kebauan—cukup diri sendiri saja, hehe—maka tidak masalah lagi jika kita menkonsumsi jengkol dan pete, ya kan?

Sumber:
http://jadiberita.com/3102/jangan-remehkan-manfaat-jengkol-dan-pete/
 Indo Leaks, askep-askeb


Sabtu, 01 Desember 2012

Pengembangan Ekonomi Masyarakat


Krisis global yang menimpa dunia sejak akhir
tahun lalu menyebabkan Indonesia juga sudah
mulai terkena dampak yang cukup signifikan. Hal
ini terutama dengan semakin sempitnya lapangan
pekerjaan dan tingginya gelombang PHK di
perusahaan-perusahaan yang berbasis ekspor. Hal
ini menyebabkan banyak orang mulai berpikir
untuk mencari alternative lain berupa wirausaha.

Namun, dengan berkembangnya waktu, mulai dirasa perlu untuk mencari tambahan pemasukan guna memenuhi kebutuhan hidup yang semakin meningkat. Ibu-ibu rumah tangga dan para mantan karyawan ini mulai melirik berbagai potensi home industry yang masuk dalam skala Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
Berbagai inovasi di ciptakan dengan membuat berbagai bentuk kreasi hasil home industry, salah satunya yang paling marak adalah usaha di sector makanan dan minuman. Antara lain: membuat donat, coklat, roti unyil, minuman kemasan dari lidah buaya, rumput laut, dan sebagainya. Dari semula iseng-iseng, ternyata home industry ini malah sudah mulai mendapat tanggapan pasar yang cukup baik.
Apa yang harus dilakukan oleh pengusaha tersebut agar usahanya bisa berkembang? Apakah yang bersangkutan perlu membentuk Badan Usaha atau cukup bergerak perorangan saja?
Sebenarnya seperti yang pernah saya uraikan dalam salah satu tanya jawab pada Artikel mengenai pendirian CV, perlu atau tidaknya membentuk suatu badan usaha tergantung pada kepentingan orang tersebut. Jika memang yang bersangkutan tidak akan melakukan mitra khusus dengan perusahaan-perusahaan besar, ataupun melakukan kerjasama maupun tender dengan instansi pemerintah, bentuk usaha Perorangan sudah cukup memadai. Tapi, jika ingin memperluas jaringan serta akan bermitra luas, biasanya mitranya lebih nyaman untuk berkerja sama dengan Badan Usaha, minimal berbentuk CV.
Dalam memproduksi makanan, minuman dan obat2an, yang paling penting adalah memiliki ijin Depkes. Karena berdasarkan Keputusan dari Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Perda setempat, untuk seluruh produksi makanan dan minuman yang diedarkan secara luas harus memiliki ijin produksi. Walaupun itu bentuknya adalah industry rumahan (home industry).
Apa sanksinya kalau tidak memiliki ijin tersebut? Sanksinya adalah:
1. Penutupan industry
2. Penarikan semua barang hasil industry yang beredar di pasaran,
3. Pelarangan ijin beredar
4. Bahkan dalam beberapa Perda, ada sanksi yang paling berat, yaitu sanksi pidahan berupa kurungan paling lama 3 bulan dan/atau denda yang besarnya variatif.

Pihak Badan POM memang tidak main-main mengenai ijin tersebut, karena hal tersebut bertujuan untuk mengendalikan peredaran makanan, minuman atau obat2an yang dapat membahayakan kesehatan bahkan jiwa dari masyarakat.
Bagaimana cara pengurusan ijin tersebut?
Untuk mengurus ijin produksi makanan dan/atau obat di dinas kesehatan, harus memenuhi syarat administrative, yaitu:
1. Surat Permohonan ijin produksi makanan atau minuman kepada Dinas Kesehatan
2. Data Produk makanan atau minuman yang diproduksi
3. Sampel hasil produksi makanan atau minuman yang diproduksi
4. Label yang akan dipakai pada produk makanan minuman yang diproduksi (label atau merek yang kemudian akan dikoreksi dan dicocokkan dengan produk dan proses produksi. Jika ada ketidakcocokan akan disesuaikan oleh petugas dari Dinas Kesehatan).
5. Peta Lokasi produksi.
6. Salinan KTP pemilik/penanggung jawab perusahaan.
7. Pas foto berwarna pemilik atau penanggung jawab 3X4 cm
8. Untuk produk minuman, disertai dengan hasil pemeriksaan laboratorium air baku.

Secara umum, tidak semua permohonan ijin produksi makanan atau minuman serta obat tradisional diterima dan dikabulkan oleh Dinas Kesehatan. Untuk beberapa produk makanan dan minuman, ijin yang dikeluarkan harus dari Departemen Kesehatan dan Badan POM.
1. Susu dan hasil olahannya
2. Unggas dan hasil olahannya yang memerlukan proses dari/atau penyimpanan beku
3. Pangan kalengan
4. Makanan bayi.
5. Minuman berakohol
6. Air minum dalam kemasan
7. Pangan lainnya yang wajib memenuhi persyaratan SNI (Standar Nasional Indonesia) dan pangan lain yang ditetapkan oleh badan POM

Prosedur pengurusan ijin produksi makanan dan minuman adalah sebagai berikut:
1. Pemohon mengajukan surat permohonan secara tertulis kepada Kelapa Dinas Kesehatan dengan dilengkapi persyaratan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2. Mempelajari surat permohonan untuk disesuaikan dengan persyaratan yang telah ditentukan
3. Pemohon diwajibkan mengikuti penyuluhan keamanan pangan secara kolektif
4. Pemeriksaan setempat sarana produksinya
5. Memberikan pertimbangan terhadap permohonan ijin yang diajukan.
6. Menyusun konsep ijin dan meneruskan kepada yang berhak menanda-tangani berdasarkan ketentuan yang berlaku
7. Menanda-tangani konsep ijin
8. Menyampaikan surat keputusan ijin kepada pemohon setlah membayar retribusi
9. Setelah permohonan diajukan, kemudian Dinas kesehatan akan melakukan penyuluhan produksi pangan yang sesuai standar kepada pengelola. Selama penyuluhan dan pelatihan ini, pihak Dinas Kesehatan juga akan meninjau ke lokasi produksi.

Jika semua persyaratan sudahh lengkap dan kondisi di lapangan sudah memenuhi syarat maka ijin akan diberikan.
Apakah keuntungan dari pengurusan Ijin IRT (Industri Rumah tangga)?
Selain kita bias dengan tenang mengedarkan dan memproses produksi kita secara luas dengan resmi, ada keuntungan tambahan dari pengurusan ijin ini, yaitu:
Jika pada saat dilakukan survey oleh petugas dari Dinas Kesehatan ternyata dilihat bahwa industry tersebut memerlukan beberapa alat untuk menunjang pekerjaan ataupun untuk efisiensi, maka pihak keseatan dengan dana dari pemerintah daerah, kadang kala akan menyumbangkan alat penunjang industry yang kita butuhkan tanpa memungut biaya. Misalnya plastic kemasan, alat press kemasan, label/logo industry, alat vaccum untuk penggorengan makanan dan peralatan lain yang dibutuhkan. Selain itu, dengan pencantuman kode IRT, makanan dan minuman akan lebih mudah dipasarkan dan lebih disukai konsumen hingga bias meningkatkan daya jual.

SUMBER:
http://irmadevita.com/2009/usaha-home-industry-makanan-minuman-dan-obat-obatan

“Mengurus Surat-Surat Perijinan” Karangan Henry S. Siswosoediro. (Penerbit: Visimedia: 2007).

Minggu, 25 November 2012

Talkshow Motivasi "Yang Muda Yang Menginspirasi"



Peserta Antusias
Motivator Muda Super Dahsyat

Talkshow Motivasi “Yang Muda Yang Menginspirasi”
By: Muda Inspira Learning Center dengan FOSSI-PMI
(Forum Studi Profesi Pemberdayaan Masyarakat Islam)
Hari/tanggal                : Sabtu/24 November 2012
Waktu                         : 08.00 s.d. selesai
Tempat                        : Aula Fakultas Dakwah dan Komunikasi Lt.4
Moderator                   : Aidil
Pembicara                    :
1.    Muvtizar Sholihin
2.    Miftah Natsir
3.    Mahfuzh Dendyan
Menjadi Motivator Muda, Siapa Takut?
Muvtizar Sholihin “Gurunya Motivator Muda Indonesia”
Menjadi orang suskes adalah sebuah keputusan yang diawali dengan perubahan. Perubahan itu harus digoreskan dengan tinta emas, tinta terbaik dalam kehidupan.
Orang yang hebat dan sukses tidak malu belajar, meskipun kepada orang yang lebih muda dari dirinya.
Deskripsikan kekuatan impian, tempel di dinding kamar dan ilustrasikan untuk menjadi kenyataan. Hidup adalah miracle, hidup adalah amazing.
Siapkan dirimu untuk menjadi sosok yang menginspirasi. Buat karya sebanyak-banyaknya. Karya terbaik, hingga orang mengenal kita bukan karena gelar yang kita sandang melainkan prestasi yang kita torehkan.
MENGAPA HARUS MENJADI MOTIVATOR MUDA?
Ø  Banyak anak muda yang menghabiskan waktu dengan hal yang sia-sia
Ø  Anak muda yang hidupnya di bawah rata-rata
Ø  Anak muda yang hidupnya tidak memiliki tujuan yang jelas
Ø  Motivasi menjadi trainer adalah ingin membantu orang-orang
Motivator muda adalah pilihan orang yang berkomitmen yang terus menjalankan profesinya. Panggung kemenangan menunggu kita untuk sebuah mutiara keberhasilan. Terus berprestasi dan menginspirasi.

Cara Santai Jadi Pengusaha Sebelum Wisuda
Miftah Nashir “Soul Empowerment Coach, Entrepreneur&Hypnotherapist”
MENGAPA MENJADI PENGUSAHA?
The Cashflow Quadrant
Employee (karyawan)
Business Owner (pengusaha)
Self employed (wirausaha)
Investor
Untuk menjadi pembisnis adalah harus memiliki keinginan yang kuat, manajemen waktu, dan bagi pelajar bisnis yang tidak mengganggu aktivitas di instansi pendidikan.
Kenapa tidak mau bisnis?
Keyakinan negatif tentang bisnis
Tidak punya keinginan kuat untuk berbisnis
Tidak tahu caranya
Lakukan yang terbaik dari usaha kita secara maksimal untuk mutiara kesuksesan. Manusia memiliki potensi yang besar, yang membatasi adalah diri kita sendiri, jangan menjadi penghambat untuk menjemput sebuah kesuksesan. Jangan menyerah! Terus jalan! Jangan menyerah! Terus jalan! Jangan menyerah! Terus jalan hingga di batas akhir!
Tuhan memberi jiwa kepemimpinan di dalam setiap insan. Dan potensi kita lebih besar dari yang kita bayangkan.
Lakukan bisnis online yang tidak memakan banyak waktu, tenaga, biaya, pasar, dan modal.

3 Jurus Terlarang Perceptan Diri
Mahfuzh Dendyan “Murid Mario Teguh”
Juru 3-D: Diri, Dulu, Do’a.
KENAL DIRI
Tak kenal maka tak sayang. Barang siapa yang mengenal dirinya maka ia kana mengenal Tuhannya. Jika mengenal Tuhan, maka Tuhan akan sayang kepada hamba-Nya. Karena sesuatu yang diinginkan akan diberikanoleh kekasihnya.
Di dunia ini manusia menjad khalifah. Menjadi pemimpin yang besar. Tuhan menurunkan manusia sebagai khalifah, dengan rezekinya masing-masing. Yakni potensi. Kebanyakan kita tidak mengetahui potensi diri yang dimiliki. Temukan potensimu dalam cita-citamu, wujudkan cita-citamu dari potensimu. Langkah-langkah mewujudkan cita-cita adalah mengasah potensi, jangan buang-buang energi waktu.
IKUTI YANG LEBIH DULU: SUKSES
Berkaca kepada Nabi Muhammad saw.
Take the best
Belajar kepada para motivator
Meniru orang sukses dari cara bicara, gaya, penampilan berpakaian, gaya duduk
Membaca buku, mencari informasi orang sukses.
Jangan mencari alasan!
Lejitkan potensi diri anda!
Tidak ada alasan untuk tidak sukses.
Kita bisa meraih yang kita inginkan
Maka kenali dirilah agar jelas tujuan kita sehingga menjadi jelas juga apa-apa yang akan kita capai.
DO’A
Do’a memiliki dua sayap yakni permintaan dan pemantasan diri.
Tujuan do’a harus jelas.

FOSSI-PMI ASA "Aksi Nyata, Selaras Antusias" ^_^