Mengemis
Bukan Tradisi Islam
Oleh: M.
Rusydi
Saudara-saudara kaum muslimin,
jamaah jum’ah yang berbahagia!
Sudah sering kita melihat antrian peminta-minta baik yang datang kerumah-rumah, di tengah jalan ataupun yang sudah punya jadwal mingguan tersendiri yaitu pada hari jum’ah, tatkala para jamaah bubar dan selesai melaksanakan shalat jum’ah mereka berbondong-bondong mencegat setiap orang untuk dimintai sedekah dan anehnya hal ini bukan suatu yang tabu lagi bagi kalangan ummat Islam, Mungkin karena selalu mendapat santunan yang sudah dapat menutupi sebagian kebutuhan hidup mereka ditambah mudahnya pekerjaan ini didapatkan sehingga profesi sebagai pengemis ini pun menjamur dimana-mana bahkan menjadi sumber mata pencaharian hidup.
Sudah sering kita melihat antrian peminta-minta baik yang datang kerumah-rumah, di tengah jalan ataupun yang sudah punya jadwal mingguan tersendiri yaitu pada hari jum’ah, tatkala para jamaah bubar dan selesai melaksanakan shalat jum’ah mereka berbondong-bondong mencegat setiap orang untuk dimintai sedekah dan anehnya hal ini bukan suatu yang tabu lagi bagi kalangan ummat Islam, Mungkin karena selalu mendapat santunan yang sudah dapat menutupi sebagian kebutuhan hidup mereka ditambah mudahnya pekerjaan ini didapatkan sehingga profesi sebagai pengemis ini pun menjamur dimana-mana bahkan menjadi sumber mata pencaharian hidup.
Yang sering menimbulkan salah
faham adalah adanya ungkapan: “Jangan memberi sedekah kepada peminta-minta!”,
kenapa kita dilarang memberikan sedekah kepada mereka?, padahal agama selalu
menganjurkan untuk selalu memberi sedekah, bahkan Allah telah menggambarkan
betapa besarnya pahala bagi orang yang suka bersedekah. Sebagaimana firmanNya
yang berbunyi.
Artinya: “Perumpamaan (nafkah
yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah
adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap
bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia
kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui”. (Al-Baqarah:
261)
Islam mencela pengangguran dan
peminta-minta
Agama Islam yang bersifat
universal tidak saja berbicara masalah ritual dan spiritual tapi juga menyoroti
segala permasalahan sosial yang selalu dihadapi ummat manusia. Salah satunya
adalah masalah pengangguran dan peminta-minta yang sangat dicela oleh Islam,
sebab hal ini merugikan masyarakat.
Pertama, pengangguran dan
peminta-minta menyebabkan tenaga manusia bersifat konsumtif, tidak produktif
akibatnya mereka menjadi beban masyarakat.
Kedua, pengangguran dan
peminta-minta adalah sumber kemiskinan, sedangkan kemiskinan merupakan bumi
yang subur bagi tumbuh dan berjangkitnya berbagai macam kejahatan.
Karena itulah Islam sangat
menentang pengangguran dan mencela orang-orang yang tidak mau bekerja padahal
sebenarnya mereka mampu bekerja.
Memberantas kemiskinan
Islam yang datang sebagai
pembebas bagi seluruh ummat manusia selalu menganjurkan bagi setiap pengikutnya
untuk memberikan sedekah, bahkan sedekah dengan predikat zakatpun sudah menjadi
kewajiban. Dan Islam sendiri mempunyai tujuan tertentu dalam bidang harta
dintaranya adalah memberantas kemiskinan secara bertahap, melarang hidup dalam
kehinaan serta mendistribusikan keadilan secara merata.
Bukan Tradisi Islam
Islam mengajarkan kita untuk
selalu bersedekah dan memberikan pertolongan kepada orang yang memerlukan
tetapi Islam tidak mengajarkan pengikutnya menjadi peminta-minta atau pengemis,
bahkan Rasulullah sendiri pernah menjelaskan bahwa orang yang membawa tambang
pergi kegunung mencari kayu lalu dijual untuk makan dan bersedekah lebih baik
dari pada meminta-minta kepada orang, sebagaimana sabdanya yang berbunyi:
Artinya: “Demi jiwaku yang
berada di tanganNya sungguh seseorang yang mengambil tali di antara kalian
kemudian dia gunakan untuk mengangkat kayu di atas punggungnya lebih baik
baginya daripada ia mendatangi orang kemudian ia meminta-minta kepadanya yang
terkadang ia diberi dan terkadang ia tidak diberi olehnya”. (HR. Al-Bukhari)
Dan beliau juga memberikan uswah
kepada kita agar jangan meminta pertolongan selama kita masih mampu untuk
mengerjakannya.
Bukan berarti kita ingin menghindari kewajiban kita sebagai muslim dan sebagai makhluk sosial, yang walau bagaimanapun diantara mereka yang meminta-minta tersebut memang pantas mendapatkan sedekah, tetapi kita hanya berhati-hati agar jangan sampai terjerumus dan terjebak pada orang-orang yang hanya menggunakan pekerjaan mengemis sebagai topeng dan menampak luaskan kemiskinan dan terlebih lagi yang kita takutkan adanya anggapan bahwa Islam adalah agama bagi orang miskin dan terbelakang.
Bukan berarti kita ingin menghindari kewajiban kita sebagai muslim dan sebagai makhluk sosial, yang walau bagaimanapun diantara mereka yang meminta-minta tersebut memang pantas mendapatkan sedekah, tetapi kita hanya berhati-hati agar jangan sampai terjerumus dan terjebak pada orang-orang yang hanya menggunakan pekerjaan mengemis sebagai topeng dan menampak luaskan kemiskinan dan terlebih lagi yang kita takutkan adanya anggapan bahwa Islam adalah agama bagi orang miskin dan terbelakang.
Oleh karenanya hendaklah para
da’i atau pendakwah Islam tidak hanya membatasi dakwahnya dalam masalah ritual
dan spiritual belaka, karena Islam tidak hanya terbatas pada hubungan vertikal
antara Tuhan dan manusia tapi Islam juga mengajarkan hubungan horisontal yaitu
hubungan antara manusia, sehingga jika sistem keseimbangan yang diajarkan ini
benar-benar diterapkan akan dapat menciptakan masyarakat yang baik atau
baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur.
Kesimpulan
Dari keterangan-keterangan ini jelaslah saudara-saudara!, bahwa Islam sangat mencela orang yang tak mau berusaha dan hanya bisa meminta-minta, apalagi dengan berdalih bahwa pekerjaan mengemis kepengemisan dan kemiskinan itu sudah ditakdirkan Allah Subhannahu wa Ta'ala . Padahal Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam pernah bersabda:
Dari keterangan-keterangan ini jelaslah saudara-saudara!, bahwa Islam sangat mencela orang yang tak mau berusaha dan hanya bisa meminta-minta, apalagi dengan berdalih bahwa pekerjaan mengemis kepengemisan dan kemiskinan itu sudah ditakdirkan Allah Subhannahu wa Ta'ala . Padahal Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam pernah bersabda:
Artinya: “Sekiranya kamu
bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, tentu Allah memberi
rizki kepadamu, seperti halnya Allah memberikan rizki kepada burung yang pergi
dalam keadaan lapar, tetapi pulang dalam keadaan kenyang”. (HR. , Ahmad,
At-Tirmidzi dan Ibnu Majah shahih dan Al-Hakim dari Umat)
Kemudian bagi orang-orang kaya
jangan hanya bisa menumpuk harta dan berfoya-foya tanpa peduli bahwa di dalam
harta mereka terdapat hak peminta-minta dan orang yang hidup di dalam
kekurangan, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh surah Adz-Dzariyat ayat 19
yang berbunyi:
Artinya: “Dan pada harta-harta
mereka ada hak untuk orang-orang miskin yang meminta dan orang miskin yang
tidak mendapat bagian”. (Adz-Dzariyat: 19).
Bahkan kalau kita telaah kembali
beberapa ayat Al-Qur’an yang turun di Mekkah sangat mengecam arogansi
orang-orang kaya Mekkah yang tidak perduli terhadap fakir, miskin, dan
anak-anak yatim. Allah menegaskan dalam firmanNya:
Artinya: “Tahukah kamu (orang)
yang mendustakan agama?. Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak
menganjurkan memberi makan orang miskin”. (Al-Ma’un: 1-3).
Dalam ayat di atas sangat jelas
bahwa orang yang mendustakan agama / hari Qiamat disejajarkan dengan orang yang
mencampakkan anak yatim dan tidak menganjurkan orang lain untuk menyantuni
fakir miskin. Betapa hinanya derajat orang yang seperti ini dan tak ada tempat
yang lebih layak baginya selain kawah api Neraka yang membara.